Jaga Volume Air, Desa Pranten Batang Ditanami Ribuan Pohon

Batang – Banyaknya pohon yang ditebang dan dialih fungsikan menjadi lahan pertanian kentang oleh warga, membuat hutan lindung mengalami penggundulan. Jika terjadi pembiaran, dikhawatirkan volume air menurun serta rawan timbulnya bencana longsor. Untuk mengatasinya, sejumlah komunitas peduli lingkungan melakukan penanaman ribuan pohon yang diharapkan mampu menjadi penahan longsor dan meningkatkan volume air.

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Watu Jadi sekaligus perwakilan Manajemen Dharmawangsa Subur mengatakan, kondisi hutan terutama di Desa Pranten sebagian besar telah gundul karena dialih fungsikan menjadi lahan pertanian.

“Makanya teman-teman dari lintas komunitas yang peduli hutan, prihatin dengan kondisi ini. Yang paling dikhawatirkan adalah volume air yang mulai berkurang karena permukaan tanah bagian atas sudah gundul tanpa pohon sama sekali,” katanya, saat dihubungi melalui WhattsApp, Senin (6/6).

Ia mengkhawatirkan rawan terjadi longsor saat hujan lebat. Jika longsor yang terjadi cukup besar tentu berdampak buruk bagi masyarakat.

“Kami berupaya menjaga kelestarian hutan dengan menanam pohon atau bibit pohon yang bisa bertahan di bawah tegakan. Ada 6 ribu pohon yang ditanam yakni kayu Puspa, Akasia, Damar dan tanaman kopi serta pohon Beringin untuk memperkuat aliran air,” jelasnya.

Untuk memanfaatkan hutan tidak selalu dengan melakukan penggundulan. Tapi dengan cara menanam yang baik, manfaatnya bisa dipetik di masa depan, dengan volume air yang mencukupi.

“Hutan lindung itu jika jumlah pohonnya sudah meningkat, bisa menjadi penyumbang oksigen. Satu pohon bisa menghasilkan sampai 250 ribu oksigen, itu lebih baik dibandingkan jika ditanami kentang,” tegasnya.

Pihak KTH akan terus berkoordinasi dengan warga setempat supaya dapat menjaga bibit pohon yang telah ditanam.

“Nantinya tiap tiga bulan sekali kami bersama lintas komunitas akan menggelar acara kemah sambil menjaga dan merawat. Kalau diketahui ada pohon yang hilang atau rusak, pelakunya akan dikenai sanksi,” tegasnya.

Ia berkeyakinan apabila warga Desa Pranten, Deles dan Bintoro Mulyo dapat menjaga kelestarian hutan, dengan menerapkan pola tanam yang baik, yakni tidak ditanami kentang, tentu dapat menjadi sumber oksigen dan air di wilayah bawah.

Administratur Perhutani KPH Pekalongan Timur, Untoro Tri Kurniawan mengatakan, kawasan hutan KPH Pekalongan Timur mencapai 18 ribu hektar. Sebagian memang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bercocok tanam, namun tidak sesuai peruntukannya.

“Yang disayangkan mereka mematikan pohon. Makanya perlu ada pemahaman kepada masyarakat,” tuturnya.

Perhutani sudah mempunyai program Perhutanan Sosial, di Desa Gerlang.

“Salah satu tanaman yang disarankan adalah kopi karena bisa menjaga daerah resapan  air tetap terjaga. Di lapangan masih ditemukan warga yang belum memiliki kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan,” ungkapnya.

Salah satu desa yang warganya mulai beralih dengan tidak lagi menanam kentang adalah Deles.

“Warga di sana sudah menanam alpukat dan kopi. Keduanya termasuk tanaman keras, jadi secara ekonomi dan kelestarian alam warga tetap mendapat manfaatnya,” ujar dia.

Ia menegaskan, warga tidak disarankan menanam kentang karena bertolak belakang dengan konsep konservasi.

“Khusus sayuran masih diperbolehkan asal ditanam di antara pohon-pohon penopang berukuran besar, dengan jarak yang ditentukan,” pungkasnya.