Bupati Kubu Raya Optimistis Zero Stunting Tercapai

Kubu Raya - Bupati Kubu Raya, Kalimantan Barat, Muda Mahendrawan mengatakan, berdasarkan data elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis masyarakat (e-PPGBM) pada Desember 2021, jumlah balita pendek dan sangat pendek (stunting) 7,9 persen atau turun secara signifikan dibandingkan tahun 2020 yaitu sebesar 13,40 persen.

"Angka tersebut sudah berada di bawah target nasional, yaitu 14 persen. Ini merupakan pencapaian yang sangat baik dan menandakan bahwa kita sudah on the track dalam upaya menuju zero stunting," kata Bupati Muda Mahendrawan saat menghadiri Rembuk Stunting di Gardenia Resort and Spa, Senin (6/5).

Dengan kondisi ini tentunya Bupati Muda Mahendrawan merasa bersyukur karena angka stunting di daerah yang dipimpinnya selama tiga tahun terakhir terus mengalami penurunan yang sangat tajam.

"Alhamdulillah, selama tiga tahun ini stubting di Kubu Raya terus mengalami penurunan yang xikup signifikan, yang mana pada tahun 2019 sebesar 23,60 persen turun menjadi 13,40 persen pada 2020 dan pada tahun 2021 kembali turun 5,5 persen menjadi 7,9 persen.

Menurutnya, angka 7,9% ini nilainya sama dengan 2.500 bayi balita, sehingga jangan merasa senang dengan penurunan ini, tetapi masih ada 2.596 yang harus diintervensi.

"Alhamdulillah, selama tiga tahun terakhir angka stunting terus mengalami penurunan, dengan kondisi ini kita optimis, Kubu Raya bisa mencapai zero stunting," ujarnya.

Muda menambahkan, rembuk stunting merupakan salah satu aksi dari 8 aksi konvergensi penurunan stunting terintegrasi yang telah ditetapkan pemerintah.

"Saya berharap acara rembuk stunting ini tidak hanya sebagai formalitas saja, tetapi harus semakin memantapkan komitmen dan berbagai upaya," katanya.

Selain itu, Muda menambahkan, melalui keputusan Bupati Kubu raya nomor 139/bappedalitbang 2022, telah ditetapkan 32 desa dengan angka prevalensi dan kasus stunting tertinggi.

" Diharapkan melalui rembuk stunting ini diperoleh rumusan kegiatan pada opd dan stakeholder untuk dapat bersama sama menurunkan stunting pada desa-desa yang telah ditetapkan sebagai lokasi fokus," harapanya.

Bupati menuturkan, untuk penanganan stunting di Kubu Raya dimulai dengan membuat sejumlah regulasi. Di antaranya peraturan Bupati tentang gerakan pencegahan stunting di Kabupaten Kubu Raya dengan sistem 'kepong bakol' melibatkan masyarakat, Posyandu, dan Puskesmas di dalam penanganan stunting. Upaya penguatan pada sistem pendataan ibu hamil secara cepat, efektif, dan lengkap juga dilakukan.

"Data tersebut mencakup risiko kehamilan dan hasil pemeriksaan yang termonitor dengan tersentral di Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya. Kesemua itu, efektif untuk menggerakkan partisipasi seluruh elemen terkait di desa, sehingga Stunting bisa dicegah dengan cara yang komprehensif, terukur, dan sistematis," kata Muda.

Bupati Muda menambahkan, pada tahun 2019 dilakukan langkah inovasi dengan program proaktif Selasa-Jumat (Salju) Terpadu. Pada program pelayanan jemput bola ini, di hari Selasa dilakukan pelayanan kesehatan keluarga seperti pemeriksaan ibu hamil, balita, imunisasi, pemberian vitamin, KB, kandungan, dan persalinan.

Dirinya menuturkan, adapun di hari Jumat diberikan pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan penyakit menular dan tidak menular. Dalam program Salju Terpadu para petugas kesehatanlah yang aktif mendatangi kediaman warga.

"Pemerintah Kabupaten Kubu Raya juga membuat regulasi berupa pembebasan dari seluruh biaya di seluruh Puskesmas dan fasilitas kesehatan masyarakat lainnya. Ini penting untuk membuat masyarakat rajin memeriksakan kesehatannya termasuk bagi ibu hamil dan berdampak pada penurunan angka stunting," tandas Bupati Muda.